Beranda » Opini » DANAU TOBA BUKAN UNTUK BAKTERI

DANAU TOBA BUKAN UNTUK BAKTERI

Maret 2008
M S S R K J S
    Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 7.234 hits
Iklan
SUDAH saatnya Pemerintah Kabupaten Samosir besikap tegas dengan mengusulkan kepada instansi pemberi ijin untuk mencabut ijin PT Aqua Farm yang mengoperasikan keramba-keramba atau jaring apung di Danau Toba.
Bupati Samosir Mangindar Simbolon agar segera mengeluarkan rekomendasi pencabutannya. Ngga usah menghindar dari kenyataan yang ada. Hemat saya, ijin perusahaan itu lebih bagus dicabut dalam waktu dekat ini. Jangan menunggu sampai masalahnya lebih parah lagi.
Seperti diberitakan Harian SIB, Pemkab Samosir Kamis (9/3) meninjau perusahaan itu untuk melihat dampak yang ditimbulkan terhadap ekosistem Danau Toba. Dua ahli yang dilibatkan Jamahir Gultom dari Pemkab Samosir dan Pohan Panjaitan dari Badan Koordinasi Penanggulangan ekosistem Danau Toba mengatakan, setiap protein dari pakan ikan mengalami degradasi dengan air menjadi amoniak saat ini menyebar di Danau Toba tanpa terkontrol.
“Protein akan mengalami degradasi begitu terkena sejenis bakteri yang ada di air. Hasilnya berupa nitrat dan amoniak. Ini sangat beracun. Bagaimana perusahaan menanggulangi penyebaran amoniak itu. Jangan sampai ada korban,” kata Jamahir kepada Manajer PT Aqua Farm Heramanto.
Jika hasil degradasi itu menumpuk dampaknya sangat fatal. Efeknya akan terjadi puluhan tahun ke depan. Dikuatirkan, jika hal itu tidak segera ditanggulangi yang terkena dampaknya generasi muda orang Batak.
“Sekarang saja tidak ada jaminan dari perusahaan kemana hasil degradasi itu. Kita tidak ingin suatu saat generasi orang Batak yang menjadi korban,” kata Jamahir.
Mendengar itu, Hermanto mengatakan pihaknya sudah berupaya menyajikan pakan terapung yang benar-benar sudah diproses dengan matang. Selain itu mereka juga melakukan penelitian berkala terkait lingkungan sekitar Danau Toba. Menurutnya dari 140 ton pakan yang ditabur setiap hari dapat diserap ikan secara maksimal. Namun Pohan Panjaitan punya pendapat yang berbeda.
Menurutnya, unsur Nitrogen yang ada dalam pakan ikan hanya bisa diserap sebanyak 25%, selebihnya terbuang mencemari Danau Toba. “Kemana sisa yang 75% dari Nitrogen yang tidak terserap itu. Apa upaya perusahaan untuk menanggulanginya. Perlu Anda ketahui, seharusnya air Danau Toba ini dapat diminum dan direnangi tanpa ada dampaknya. Apa kalian sudah punya Amdal yang disertai upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL)? Mana bisa kami lihat? Tahukah anda jika perusahaan tidak memiliki itu maka perusahaan itu dapat ditutup?” tanya Pohan.
Mendengar itu Hermanto mengakui mereka belum memilikinya. Menurutnya, UKL dan UPL itu masih dalam proses. “Terkait UKL dan UPL masih kami susun dan mungkin bulan depan sudah selesai. Namun perlu kita pahami bersama, bukan hanya kami yang menghasilkan polusi di Danau Toba. Di luar Samosir masih ada yang menghasilkan polutan lebih banyak lagi. Kami sudah mengambil sedimennya. Tapi saya tidak menyebutkan namanya,” kata Hermanto saat ditanya apakah PT Allegrindo yang dimaksudnya.
Dari dialog ini, seperti disiarkan koran Medan itu, tidak ada alasan bagi Pemkab Samosir untuk bertindak tegas. Gubernur Sumut pun sebenarnya harus bersikap serupa kalau Danau Toba memang kita akui sebagai aset bangsa.
Yang pasti, Danau Toba itu bukan untuk bakteri***
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: