Beranda » Uncategorized » BUNG, BERHENTI SAJA MEROKOK

BUNG, BERHENTI SAJA MEROKOK

September 2008
M S S R K J S
« Mar   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 7.234 hits
Iklan

Oleh Efendy Naibaho


KALAU kunci sukses Agung Laksono meninggalkan rokok dengan menceritakan tekadnya untuk berhenti merokok kepada setiap orang, saya malah mengajak teman-teman untuk membuat peraturan daerah dilarang merokok. Beda, tapi hasilnya sama: Agung Laksono, Ketua DPR RI berhenti merokok, saya, anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, juga berhenti merokok.

Agung dengan caranya itu akan merasa malu jika akhirnya gagal meninggalkan rokok. Karenanya, tekadnya untuk tidak merokok lagi semakin kuat walaupun pada tiga bulan pertama rasanya berat sekali. Ini pengakuan Agung. Kalau saya, teman-teman yang saya ajak meneken surat yang ditujukan kepada Ketua DPRD Sumatera Utara, malah meneruskan hobbi buruknya itu, tetap merokok.

Padahal, teman-teman yang meneken surat tersebut sudah mencapai 50 orang dari seluruhnya sebanyak 85 anggota dewan. Surat dukungan ramai-ramai itu adalah untuk mengajukan ranperda larangan merokok di tempat umum. Namun usaha saya ini kandas karena tidak mendapat respon positif pimpinan dewan. Padahal, kalau voting, sudah menang mutlak. Sudah setengah n tambah satu.

Hampir sama dengan Agung, saya juga sudah merokok sejak kecil, mungkin ketika masih berusia 10 atau 13 tahun. Sampai usia 45-an, di tahun-tahun 2000-an, setidaknya lima bungkus rokok yang saya bakar sia-sia setiap hari.

Ketika itu, bagi saya, memang tidak ada menit tanpa merokok. Faktanya, ketika tidur saja saya tidak merokok. Memang lucu juga ya kalau merokok sambil tidur. Mana mungkin kan? Tapi itulah faktanya. Malah, di Bandara Polonia Medan, puluhan tahun silam, saya bebas saja melenggang merokok di landasan bandara itu. Ketika itu barangkali petugasnya segan sama saya karena saat itu saya bertugas di Polonia Medan sebagai seorang wartawan koran lokal yang sangat berpengaruh.

Ketika sudah menjadi wakil rakyat pun, kebiasaan merokok masih tetap saya lakukan. Meja kerja di ruang sidang paripurna menjadi asbak yang empuk bagi puntung rokok saya.

Malah yang lebih nakal, saya pernah berencana mengadukan seorang perawat di RS Permata Bunda Medan kepada direkturnya, yang kebetulan saya kenal baik, gara-gara perawatnya melarang saya merokok di ruang inap rumah sakit itu. Itulah hebatnya pengaruh rokok yang benar-benar mencekam dan mencengkeram.

Syukur, kini saya sudah stop total merokok. Kalau ditanya apa resepnya, jawabannya mudah sekali: ya berhenti merokoklah. Yang namanya obat, memang ada saja tapi tak pernah saya coba. Saya pernah ikut program chamber di rumah sakit Angkatan Laut di Jakarta, tapi hanya bertahan semalam saja. Tak kuat saya melawan nikotin yang sudah merasuk ke tubuh saya.
Kini, kampanye larangan merokok semakin banyak disuarakan. Saya sangat setuju dengan rencana Pemko Balikpapan yang berencana membuat peraturan larangan guru merokok selama berada di sekolah. Wakil Walikota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan selama ini larangan guru merokok di lingkungan sekolah sekedar imbauan.

“Kami ingin dibuatkan sebuah intruksi kepada guru, supaya tidak merokok selama masih berada di lingkungan sekolah,” ujar Rizal. Larangan ini telah diusulkan ke Walikota Balikpapan Imdaad Hamid.

Kita memang harus prihatin dengan tingginya jumlah anak-anak yang merokok yang salah satu faktornya disebabkan faktor lingkungan. Banyak orang dewasa yang merokok di tempat umum, sehingga mempengaruhi anak-anak untuk merokok. Pemandangan ini memang biasa terlihat.

Mengatasinya, guru-guru sebenarnya harus secara tegas dilarang merokok di seputaran sekolahnya apalagi di ruang kelas. Masih ingat kan pepatah: “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Kalau dikaitkan dengan rokok: “ guru merokok berdiri, murid merokok sembunyi”.

Jangankan guru, yang setiap hari memberikan ilmu kepada siswanya., seorang pengamat sosial dari Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM), Kanthi Pamungkas Sari menyatakan agar orangtua jangan sekalipun menyuruh anak-anak membelikan rokok, sebab bisa mendorong rasa ingin tahu mereka tentang rokok sehingga akan mencobanya.

Menurut dia, anak-anak yang biasa disuruh membelikan rokok akan menjadi penasaran tentang fungsi rokok bagi orang dewasa dan ingin mencoba mengisap rokok.

Kanthi yang juga pengajar sosiologi di Fakultas Agama Islam UMM itu mengatakan, pemilik warung atau toko yang menjual rokok sebaiknya tidak melayani pembeli rokok yang masih anak-anak dengan berbagai alasan.

Ia mengatakan, orang dewasa yang merokok di depan anak-anak juga berpengaruh terhadap dorongan anak untuk menirunya. “Tidak akan efektif mengeluarkan larangan merokok bagi anak-anak kalau orang dewasa tidak dapat menjadi contoh,” katanya.

Ada juga masalah lain, yakni iklan. Berdasarkan sebuah survey, sekitar 93,9 persen remaja melihat iklan rokok baik di televisi maupun acara-acara remaja dan olahraga. Sebagian masyarakat juga berpendapat bahwa merokok sebagai hal biasa karena mereka belum merasakan bahaya rokok bagi kesehatan.

Ada yang beranggapan merokok dapat mengurangi tekanan, sebagian lain merasa dengan merokok mendapatkan kesan keren dan jantan, seperti halnya iklan rokok yang memberikan imej jantan dan keren.

Data badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk kesehatan (WHO) menujukkan peningkatan jumlah perokok anak Indonesia yang mencapai sekitar 37 persen. Sekitar 70 juta anak Indonesia sudah menjadi perokok dan umumnya dipengaruhi lingkungan orang dewasa terdekatnya yang juga perokok. Yang paling penting lagi adalah, “Merokok bagi anak-anak berbahaya sebagai pintu masuk narkoba,” katanya.

Ia mengatakan, jumlah orang sakit yang antara lain sebagai akibat merokok cenderung semakin tinggi. Berbagai penyakit akibat merokok antara lian kanker paru-paru dan TBC yang saat ini di Indonesia mencapai peringkat ketiga di dunia.

Data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 70 persen perokok aktif di Indonesia berasal dari keluarga miskin. Mereka memprioritaskan rokok ketimbang berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Rokok, katanya, menempati posisi kedua pemenuhan kebutuhan setelah beras. Alokasi dana untuk pembelian beras sekitar 14 persen dari total pendapatan keluarga, sedangkan rokok sekitar 12 persen.

Cara promosi industri rokok melalui iklan di berbagai media memang dinilai masih terlalu bebas sehingga pengaruhnya jauh lebih dahsyat dibandingkan peringatan bahaya merokok yang melekat di setiap iklan atau bungkus rokok itu sendiri.

“Pembuat iklan rokok memang pintar, bisa mencitrakan merokok dengan sesuatu yang `macho` dan hebat, padahal merokok merusak kesehatan,” kata psikolog Universitas Diponegoro Semarang, Hastaning Sakti.

Menurut Staf Ahli Bidang Pencegahan Narkoba Badan Narkotika Nasional (BBN) itu, daya pencitaraan iklan mampu mendorong anak dan remaja untuk mencoba rokok sekaligus mempertahankan para perokok untuk tidak menghentikan kebiasaan buruk tersebut.

Hastaning menunjukkan data tahun 2004 bahwa persentase anak usia 7-12 tahun atau anak usia sekolah dasar (SD) yang merokok mencapai 20,24 persen pada anak laki-laki, sedangkan perempuan 4,17 persen.

Persentasenya naik pada jenjang usia 13-15 tahun (usia SMP), yakni pada anak laki-laki 12,5 persen, sedangkan perempuan 8,33 persen. Pada usia jenjang SLTA, jumlah anak laki-laki yang merokok melonjak menjadi 47,92 persen, sedangkan siswa perempuan 6,25 persen.

Menurut dia, selain pergaulan yang tidak sehat, iklan rokok memiliki pengaruh sangat besar di kalangan anak dan remaja untuk mencoba kebiasaan buruk tersebut. Karena iklan dibiarkan terlalu bebas dan distribusinya juga tidak dibatasi, katanya, tidak mengherankan bila Indonesia termasuk salah satu bangsa dengan konsumsi rokok terbesar di dunia.

Ia menyebutkan, saat ini jumlah perokok aktif mencapai 141,44 juta orang, mayoritas kaum pria. “Yang lebih menyedihkan, dari jumlah perokok itu, 60 persen di antaranya penduduk miskin,” katanya.

Psikolog yang banyak menangani persoalan remaja itu mendesak industri rokok dan biro iklan menghentikan promosi dengan memberikan rokok gratis kepada masyarakat, terutama bagi remaja dan anak-anak. “Ada pertunjukan musik dangdut yang penontonnya diberi rokok gratis, padahal sebagian dari mereka anak dan remaja. Sungguh sangat mengerikan,” katanya.

Hastaning menyarankan pemerintah membuat perlindungan lebih baik lagi kepada masyarakat dari bahaya merokok, misalnya mewajibkan pabrik rokok mencantumkan gambar organ tubuh yang rusak akibat kebiasaan merokok di setiap bungkus dan iklan.

“Kalau cuma peringatan bahaya berupa tulisan, itu tidak efektif. Apalagi bila ukuran hanya kecil. Cantumkan gambar jantung meleleh atau paru terbakar, agar lebih menakutkan. Ini demi melindungi bangsa kita sendiri,” katanya.

Gebrakan yang lebih maju adalah di Bogor. Puluhan sopir angkutan kota di Kota Hujan itu, yang sedang merokok sambil mengemudi kendaraannya, mendapat teguran dari Dinas Kesehatan (Dinkes) yang menggelar operasi simpatik. Petugas kemudian menukar rokok sopir angkot dengan sebuah permen, sekaligus membagi bagikan brosur yang isinya berupa larangan untuk tidak merokok di angkot.

“Maaf Pak, tolong dimatikan rokoknya,” kata dr Adelia Rahmi, salah seorang staf dari Dinkes Kota Bogor sambil meminta rokok yang sedang diisap seorang sopir angkot untuk dimatikan, dan kemudian menyerahkan permen sebagai pengganti rokok.

Tak hanya sopir angkot, para penumpang yang kedapatan sedang merokok di dalam angkutan umum juga tak luput dari teguran petugas Dinkes yang dalam operasi itu bekerjasama dengan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor.

Kalau di Surabaya, puluhan warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Kawasan Tanpa Rokok (Jangan Merokok) menggelar unjuk rasa di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya, mendesak agar raperda kawasan tanpa rokok dan kawasan terbatas rokok (KTR) segera disahkan.

Masyarakat yang menuntut pemerintah memberlakukan aturan mengenai kawasan tanpa rokok secara nasional, memang semakin deras. Ini hasil jajak pendapat yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Suara Ibu Peduli (SIP) yang dipublikasikan di Jakarta.

Hasil jajak pendapat terhadap seribu responden berusia 18 tahun hingga 50 tahun yang terdiri atas perokok (400 responden) dan bukan perokok (400 responden) di seluruh wilayah DKI Jakarta selama periode Juli-Agustus 2008 itu menunjukkan bahwa 87,8 persen responden setuju dengan penerapan aturan tentang kawasan tanpa rokok.

“Mereka juga berharap aturan itu bisa diterapkan di seluruh wilayah. Ini menunjukkan adanya desakan dari masyarakat untuk menerapkan kawasan tanpa rokok di seluruh Indonesia, jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak melakukannya,” kata anggota pengurus harian YLKI Tulus Abadi.

Hasil jajak pendapat itu juga menunjukkan bahwa masyarakat juga menuntut pelaksanaan ketentuan soal kawasan tanpa rokok di tempat umum seperti pusat pelayanan kesehatan (84,6 persen), angkutan umum (76,6 persen), tempat belajar mengajar (76 persen), pusat belanja (40 persen) dan kantor pemerintah (40 persen).

Responden jajak pendapat juga menyetujui pengenaan denda baik berupa denda di bawah Rp100 ribu (16,2 persen), pemberian peringatan (11,1 persen), penangkapan dan penahanan (8,1 persen) maupun kerja sosial (5,9 persen) terhadap pelaku pelanggaran ketentuan tentang kawasan tanpa rokok.

Menurut hasil jajak pendapat, 72 persen responden bukan perokok menyatakan asap rokok menyebabkan sesak nafas, 56 persen tidak tahan dengan bau asap rokok, 50 persen mengaku sakit kepala saat menghirup asap rokok orang lain dan 29 persen mengeluh matanya perih jika terkena asap rokok.

Sementara responden yang bukan perokok setuju dengan alasan asap rokok dapat mengganggu orang yang tidak merokok (49,4 persen), supaya Jakarta bebas polusi (26 persen), supaya anak/pelajar terlindung dari rokok (9,7 persen), dan sisanya untuk menekan dampak buruk rokok terhadap kesehatan dan ekonomi.

“Dan hasil studi memang menunjukkan bahwa paparan asap rokok orang lain mengakibatkan berbagai macam gangguan kesehatan, bahkan bersifat mematikan bagi bukan perokok yang menghirupnya. Para ahli juga menyatakan bahwa tidak ada batas aman asap rokok yang bisa ditolerir,” katanya.

Oleh karena itu YLKI merekomendasikan pemerintah untuk menerapkan ketentuan mengenai kawasan tanpa rokok untuk melindungi masyarakat bukan perokok dari paparan asap rokok orang lain.

Ia juga meminta pemerintah daerah yang sudah memiliki peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok seperti DKI Jakarta dan Bogor untuk menegakkan aturan tersebut dan memperbanyak kegiatan kampanye antirokok.

Lagipula, kata Tulus, tindakan itu secara jelas diamanatkan oleh undang-undang dasar 1945, undang-undang tentang kesehatan, undang-undang tentang hak asasi manusia dan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2003 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan.
Kita tunggu saja.

Sambil menunggu, ternyata ada hal baru lagi. Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) Irjen Pol Sutjiptadi melarang para taruna merokok baik di dalam maupun di luar kampus dan setiap pelanggaran untuk itu akan mendapatkan sanksi.

“Kalau ketahuan merokok, maka pembina taruna akan mencatatnya sebagai pelanggaran perilaku dan nilai kepribadiannya akan dikurangi,” katanya di kampus Akpol, Semarang. Ia menyatakan, nilai pelanggaran merokok akan diperhitungkan untuk mengurangi nilai kepribadian yang menjadi salah satu syarat bagi taruna untuk naik tingkat atau lulus dari Akpol.

“Satu kali merokok bisa kena pengurangan nilai 0,01. Pengurangan nilai karena merokok sangat berarti. Taruna tidak naik tingkat dan tidak lulus bila nilai kepribadian kurang dari 70. Cari nilai 1 untuk kepribadian saja susah kok, apalagi harus dikurangi karena merokok,” katanya.

Menurut dia, aturan larangan merokok itu dibuat untuk membuat pribadi perwira Polri yang utuh agar tidak terjerumus dengan zat berbahaya bagi tubuh. “Ingat, merokok itu jadi pintu awal untuk masuk dunia narkoba,” katanya menegaskan.

Sayang, larangan itu belum berlaku bagi para pembina, dosen dan semua polisi yang berdinas di Akpol karena mereka masih diperbolehkan merokok.

“Yang dilarang kan hanya taruna. Pembina dan dosen kan bukan taruna tapi sudah menjadi polisi, maka ya boleh-boleh saja merokok” katanya. Ia menyatakan, tindakan larangan merokok bagi taruna dan tidak ada larangan merokok bagi nontaruna itu bukan tindakan diskriminatif tapi dalam rangka pembinaan saja.

“Ini merupakan ujian bagi taruna. Taruna harus mampu mengubah kebiasaan merokok saat ada orang di sekitarnya merokok,” katanya. Sutjiptadi juga tidak melarang kantin dalam kampus Akpol menjual rokok. Benar juga ya pak Polisi kita ini.

Di Depok, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail siap mencopot jabatan camat, lurah ataupun pejabat lainnya di lingkungan Pemkot Depok yang merokok di ruangan kerjanya, apalagi saat melayani masyarakat.

“Sanksi terhadap pelanggar Surat Edaran dilarang merokok, perlu dilakukan sebagai upaya penegakan etika,” katanya di Depok. Pemerintah Kota (Pemkot) Depok mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 40/874-Huk 2008 tentang larangan merokok bagi karyawan tertanggal 18 Juni 2008. Para karyawan diimbau untuk tidak merokok di tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum.

Tapi, di lingkungan Pemkot Depok sendiri, SE tersebut tidak bisa berlaku efektif karena beberapa PNS masih terlihat melakukan kebiasaannya untuk merokok di ruang kerja.

Padahal banyak orang sudah tahu apa bahaya merokok itu. Khusus perempuan muda yang merokok, menghadapi resiko serangan stroke dua-kali lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang bukan perokok, sementara perokok paling berat di antara mereka memiliki resiko sembilan kali lebih besar, demikian hasil suatu studi AS.

Penelitian tersebut memperkirakan resiko stroke di kalangan perempuan yang berusia 15 sampai 49 tahun yang menghisap rokok. Perokok saat ini 2,6 kali lebih mungkin untuk terserang stroke dibandingkan dengan perempuan yang tak pernah merokok, kata beberapa peneliti yang dipimpin oleh Dr. John Cole dari University of Maryland School of Medicine di Baltimore.

Perempuan yang merokok paling banyak menghadapi resiko paling tinggi, kata studi tersebut, yang disiarkan di dalam jurnal milik American Heart Association, Stroke, terbitan pekan lalu.

Perempuan yang menghisap 21 sampai 39 batang rokok per hari, misalnya, menghadapi resiko terserang stroke 4,3 kali lebih tinggi dibandingkan yang bukan perokok, sementara mereka yang menghisap sedikitnya dua bungkus per hari –40 batang rokok– menghadapi resiko stroke 9,1 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan yang bukan perokok.

Rokok sudah lama diketahui meningkatkan resiko stroke, serta bahaya lain kesehatan seperti kantor paru-paru atau kanker jenis lain, penyakit paru-paru dan sakit jantung.

Namun Cole mengatakan tak banyak diketahui bagaimana resiko stroke dipengaruhi oleh jumlah rokok yang dihisap seseorang.

Stroke biasanya menyerang orang yang lebih tua dibandingkan dengan orang dalam studi itu tapi penelitian memperlihatkan bahwa, bahkan pada perempuan muda sekalipun, resiko stroke meningkat tajam.

“Makin banyak anda menghisap rokok, makin besar kemungkinan anda terserang stroke,” kata Cole dalam suatu wawancara telefon. “Tentu saja, berhenti adalah cara terbaik yang dapat anda lakukan. Namun pengurangan tak menawarkan manfaat.”

Makanya, berhenti merokok saja Bung……..!!! Atau, Bung, berhenti saja merokok. !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: