Beranda » Uncategorized » CONTRENG ATAU CONTENG PEMILU

CONTRENG ATAU CONTENG PEMILU

September 2008
M S S R K J S
« Mar   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 7.292 hits

Tulisan Teratas

Iklan

Oleh Efendy Naibaho

CARA memilih pada Pemilu 2009 masih dibahas. KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengusulkan contreng. Kecenderungannya kuat sekali untuk menerapkan sistem contreng pada kertas suara nanti. Padahal, pada pemilu-pemilu sebelumnya, rakyat sudah terbiasa dan akrab dengan istilah atau kata coblos. Para caleg pun ketika menawarkan berbagai janji-janji kampanyenya, semuanya bermuara pada satu kata: coblos. Kini, kata contreng mulai dikampanyekan.

Prokontra pun mulai muncul. Kebijakan KPU akan menerapkan sistem contreng, bukan coblos, pada kertas suara Pemilu 2009, dinilai bakal sarat terjadi pelanggaran. Sistem contreng lebih rawan terjadi manipulasi suara di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), karena hanya menandai V dengan alat tulis, kata anggota Fraksi PDIP DPRD Sulut, Benny Rhamdani.

Setiap saksi dari 38 Partai Politik (Parpol) di TPS, diprediksikan sulit melakukan pengawasan selama perhitungan suara, karena bukti surat suara bisa saja dimanipulasi. Jika surat suara pemilu dicoblos menggunakan paku, jelas diketahui kertas gambar Parpol pilihan bolong atau lubang, sementara dicontreng memerlukan waktu lama untuk diteliti.

Pengamat politik dari Unsrat Manado, Yurnie Sendow mengatakan, sistem contreng V pada kertas suara, membuat masyarakat semakin tidak mengerti karena minimnya sosialisasi.

Sangat riskan jika sudah memasuki tahapan Pemilu pihak KPU belum sosialisasikan sistem contreng pada surat suara, sehingga masyarakat semakin bingung, kata staf pengajar FISIP Unsrat itu.

Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary mengatakan kesepakatan untuk hanya menggunakan contreng sebagai tanda yang sah ini adalah untuk memudahkan masyarakat dalam memberikan suara, maupun petugas di lapangan untuk menghitung suara sah.

“Untuk penandaan ini, kami sepakat satu-satunya dengan tanda contreng,” katanya.

Menurut Hafiz, jika masyarakat diberikan alternatif untuk menggunakan tanda lain, maka akan menyulitkan petugas di lapangan.

Menurut Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat Jeirry Sumampow, terlepas dari kemungkinan adanya manipulasi suara, kesalahan dalam mencoblos masih terjadi.

Padahal, pemungutan suara dengan mencoblos telah dilakukan pada Pemilu 1999, tetapi kesalahan dalam mencoblos tetap terjadi pada Pemilu 2004. “Sosialisasi itu tidak gampang, apalagi kalau materinya baru. Selama ini masyarakat tahu bahwa pemungutan suara itu dengan mencoblos,” katanya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tingkat pemahaman setiap orang berbeda-beda. KPU mungkin tidak mengalami kendala untuk memperkenalkan penggunaan tanda contreng pada masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi.

KPU akan mengalami kendala geografis maupun teknis untuk melakukan sosialisasi di daerah terpencil dan sosialisasi pada masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah.

Jeirry mengatakan KPU seharusnya membuat pemetaan sejak awal tentang daerah-daerah yang mengalami kendala dalam pemilu. Selanjutnya, dibuat strategi yang tepat.

“KPU tidak boleh menggampangkan. Kemungkinan jumlah suara tidak sah akan tinggi karena salah memberikan tanda,” katanya.

Ia menyarankan agar KPU mulai bergerilya melakukan sosialisasi merata hingga ke pelosok Tanah Air dengan memanfaatkan seluruh infrastruktur yang dimiliki. KPU dapat memanfaatkan perangkat desa hingga RT/RW untuk sosialisasi.

Selain memasyarakatkan tanda contreng, KPU juga harus bekerja keras memberikan pemahaman pada masyarakat tentang peletakan tanda contreng yang sah.

Anggota KPU Andi Nurpati mengatakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 pasal 176, pemberian tanda dinyatakan sah apabila diberikan satu kali pada kolom nama partai atau kolom nomor calon atau kolom nama calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Desain surat suara yakni memanjang kesamping dimana terdapat 38 kolom berisi dua yakni kolom nama partai dan kolom nomor serta nama caleg.

Kolom nama partai dilengkapi dengan logo partai. Sedangkan, di setiap kolom caleg memuat nomor, nama caleg, dan dilengkapi nama partai.

Andi mengatakan bentuk surat suara ini tidak jauh berbeda dengan pemilu sebelumnya.

Yang pasti, Komisi Pemilihan Umum menilai pemungutan suara dengan mencontreng lebih efisien dari segi waktu dan tingkat kesalahannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan tanda lain seperti silang (X) dan melingkari (O).

Anggota KPU Andi Nurpati mengatakan pertimbangan KPU menggunakan tanda contreng untuk menandai surat suara karena masyarakat telah sering menggunakan tanda tersebut.

“Dari tiga bentuk tanda ini kita telaah mana yang lebih cepat, lebih mudah, dan tingkat kesalahannya lebih rendah,” katanya.

Sayang, kata contreng ini belum saya temukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, yang diterbitkan Balai Pustaka 2001.

Yang ada baru conteng yang artinya coret (palit) dengan jelaga, arang dan sebagainya.

Menconteng juga diartikan dengan mencoreng dengan arang atau tinta atau cat. Kalau terconteng, artinya sudah dicontengkan atau kiasannya, kena noda (aib atau malu).

Contohnya, terconteng arang di muka, peribahasa yang artinya mendapat malu.

Untunglah, pemilu kita hanya satu kata: contreng. Bukan conteng atau coblos. ***.

Iklan

3 Komentar

  1. Medan amrullan anggota KPU Kab Jombang berkata:

    Perubahan itu memang terasa aneh. untuk itu perlu sosialisasi. KPU sebagai institusi penyelenggara berupaya keras untuk menyosialisasikan perubahan cara pemberian suara di TPS, dari Coblos dengan paku menjadi mencontreng, mencawang/mencentang pada parpol atau nomor calon atau nama calon dalam surat suara. saya yakin pemilu 2009 berhasil sebagai paradigma baru.
    contreng/cawang/centang ………………………… contreng/cawang/centang………………………….

  2. Medan amrullah anggota KPU Kab Jombang berkata:

    Jangan takut dengan Contreng/centang/cawang………………………………..
    Pemilu legislatif 2009, mengalami perubahan regulasi, terutama dalam pemberian suara dari “mencoblos” menjadi mencontreng/mencentang/mencawang ( v ) atau dengan istilah lokal lainnya. Karena sesuatu yang baru, maka masyarakat masih banyak yang mengkhawatirkan akan banyaknya kesalahan dalam memberikan suara nantinya. sikap tersebut sangat manusiawi, tetapi dengan semangat perubahan dan sosialisasi yang terus menerus baik oleh penyelenggara maupun oleh partai politik ( caleg ) maka keraguan tersebut mulai berkurang.
    Sampai komentar ini di turunkan pemberian suara dengan cara menandai centang (v) satu kali pada kolom nama partai atau kolom nomor calon atau kolom nama calon DPR,DPRD dan foto calon untuk calon DPD. Gunakan hak pilih anda, pemilih cerdas menghasilkan wakil rakyat yang berkualitas…….. sukses

  3. anggi berkata:

    Yang Paling PENTING SELURUH KPU Harus Punya NIAT TULUS SEBAGAI JURI YANG ADIL DALAM PERTARUNGAN DEMOKRASI INI…………………segala teknis bisa diatasi asal PUNYA NIAT…..YANG MAHA MULIA……

    ym : anggi_hut@yahoo.com
    email : anggi65@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: