Beranda » Uncategorized » MERDEKA, BAIKNYA HURUF KECIL ATAU BESAR, PAKAI TANDA SERU ATAU TIDAK?

MERDEKA, BAIKNYA HURUF KECIL ATAU BESAR, PAKAI TANDA SERU ATAU TIDAK?

September 2008
M S S R K J S
« Mar   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 7.292 hits

Tulisan Teratas

Iklan

Oleh Efendy Naibaho

ANGGOTA Dewan Pers Abdullah Alimudi menyatakan PN Jakarta Selatan merupakan “kuburan” bagi kemerdekaan pers, setelah majelis hakim mengabulkan gugatan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) terhadap koran Tempo. “PN Jaksel sebagai ‘kuburan’ bagi kemerdekaan pers,” katanya di Jakarta.

Kemudian ada lagi berita, Rakyat Timor Timur (kini Timor Leste), sampai sekarang belum merdeka. Setidaknya, bila diukur dari tingkat kesejahteraan rakyatnya yang masih rendah. Ini pendapat Domingos Maria das Dores Soares, Walikota Dili periode 1990-1992, ketika berbincang-bincang dengan sejumlah wartawan, setelah mendeklarasikan ormas Pelopor Pembaruan Bangsa Indonesia (PPBI), di Jakarta,.

“Rakyat Timor Timur sekarang melarat. Mereka belum merdeka,” kata Soares selaku ketua umum ormas tersebut.

Ia juga mengatakan banyak saudaranya yang berada di Timor Leste saat ini meminta agar dapat bergabung dengan Indonesia. “Buktinya jelas. Saudara-saudara saya sendiri sering menelepon, mereka bilang mau ke Indonesia saja,” katanya.

Sebenarnya, apa perbedaan Soares dengan Alimudi?. Bagi saya, keduanya sama saja: belum merdeka. Mengapa belum merdeka di bidang hukum terkait masalah pers tadi?

Alimudi menyatakan putusan majelis hakim banyak tidak mempertimbangkan soal kebebasan pers di tanah air, padahal koran Tempo sudah melaksanakan fungsi koreksi dan kontrol sosial dalam pemberitaannya.

Ia menilai, putusan majelis hakim merupakan satu bukti bahwa kebebasan pers di tanah air terancam. “Kebebasan pers di tanah air terancam dengan adanya putusan itu,” ulangnya.
Sama kan?

Soares belum merdeka dalam arti fikiran dan kesejahteraan. Masih banyak persoalan yang ditimbulkannya yang intinya soal kesejahteraan, malah ada kesan menyesal kok merdeka.

Bagi kita, di masa penjajahan, merdeka itu pilihan antara hidup atau mati. Sekali lagi, hidup atau mati. Bukan atau.

Karena 350 tahun dijajah Belanda, tentu tidak enak. Berapa banyak pahlawan yang gugur menentang penjahahan di muka bumi yang nyata-nyata tidak sesuai dengan peradaban dunia. Juga tidak enak dijajah Jepang walau hanya 3,5 tahun saja.

Tapi yang jadi soal, masih ada saja suara-suara miring rakyat kecil yang membisikkan, lebih enak di masa penjajahan dulu. Bisikan hati nurani rakyat ini tentu bukan mengartikan bahwa lebih enak di masa penjajahan dalam arti defakto dan dejure. Saya lebih yakin kalimatnya untuk memprotes bahwa lebih enak di jaman penjajahan dalam arti disiplin, kerja keras dan penegakan hukum serta kesejaheteraan yang adil dan merata.

Kalau ini yang jadi soal, memang ada yang salah di republik kita ini. Itu sebabnya ada reformasi atau tuntutan perubahan selama puluhan tahun rezim Orde Baru berkuasa. Di dalam sistem pemerintahan kita, sejak tahun 1974, diberlakukan UU No 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah yang intinya, pemerintahan itu harus dari Pusat, dalam hal ini Jakarta.

Kemudian ada UU No 22 Tahun 1999 yang intinya otonomi di daerah. Tidak di provinsi lagi tapi di kabupaten kota. Tapi nasib UU ini seumur jagung saja walau banyak sekali birokrasi yang dipangkas habis. Kini, otonomi itu sedikit demi sedikit sudah mulai bergeser kembali. Kekuasan Pusat, perlahan tapi pasti, menunjukkan gejala berulang kembali. Apakah ini yang dimaksudkan si rakyat kecil tadi? Perlu survey untuk ini. Perlu penjajakan lebih detil lagi.

Yang pasti, menjelang hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2008 yang hanya tinggal menghitung hari saja, penjual bendera merah putih di pelosok kota di Tanah Air mulai “menjamur”.

Pedagang musiman berjumlah puluhan, memajang dagangannya dengan seadanya, di tepi sejumlah ruas jalan utama di Nusantara ini. Chandra (28), salah seorang pedagang mengatakan, perayaan tujuhbelasan yang rutin setiap tahun, juga berarti berkah bagi dirinya, karena bendera-bendera tersebut, tergolong cepat habis terjual.

“Dalam satu hari, saya bisa menjual sampai lima belas bendera dan umbul-umbul, dengan keuntungan antara 150 hingga 200 ribu rupiah,” katanya.

Lumayanlah Bung, dengan Hari Kemerdekaan dapat untung sedikit.

Namun, merdeka dalam arti luas banyak sekali dituntut. Mulai dari kebebasan pers tadi sampai –contoh kecil saja– merdeka atau bebas jalan kaki di trotoar. Bukankah semakin sempit saja hak pejalan kaki di Indonesia khususnya di kota-kota besar? Trotoar Indonesia –yang katanya di jaman Belanda itu enak dilalui— sekarang tidak enak dilalui.

Selain dijadikan tempat jualan pedagang kaki lima, juga dijadikan pajangan barang pedagang pemilik ruko. Terkadang jadi tempat parkir spedamotor dan mobil. Dan, ini yang paling menjengkelkan, menjadi tempat iklan apalagi iklan rokok yang membuat saya tidak merdeka dari asap.

Untuk semuanya itu, mari kita renungkan, sudah waktunyakah merdeka itu ditulis dengan huruf besar atau kecil atau dengan tanda petik atau tidak atau dengan tanda seru atau tidak?.

Yang pasti, saya ingat Gombloh saja,: “Merah Darahku Putih Tulangku Indonesia Tanah Air ku”. Merdeka !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: