Beranda » Uncategorized » SEKALI PANCASILA TETAP PANCASILA

SEKALI PANCASILA TETAP PANCASILA

Oktober 2008
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 7.234 hits
Iklan

Oleh Efendy Naibaho

PADA masa penjajahan dulu, yel-yel “ sekali merdeka tetap merdeka” kerap dikumandangkan. Ketika itu, semangat merdeka bergaung luas sekali. Setelah merdeka, defacto dan dejure, bangsa kita memasuki babak baru: pembangunan. Ada yang namanya pembangunan fisik, politik dan yang tak kalah pentingnya adalah pembangunan ideologi.

Ketika di masa saya, sepuluh tahun setelah Kemerdekaan RI 1945 –saya lahir di Medan tahun 1955— sepuluh tahun ke depannya, 1965, ada gerakan yang disebut dengan Gerakan 30 September. Di tahun-tahun itu, setiap sore pasti ada yang disebut dengan bahaya udara dan berbunyilah sirene yang meminta agar lampu dimatikan.

Jangan silap, ketika itu di rumah saya dan di banyak tempat lainnya, listrik PLN belum merata. Yang ada lampu petromaks. Itupun sudah terbilang hebat juga pakai stromking, sebutan lain petromaks, karena tetangga kami pun masih ada yang pakai lampu teplok.

Juga ada perintah menggali lubang berbentuk l yang cukup untuk sebatas luitut. Jalanan juga ramai dengan tulisan “Ganyang Malaysia” dan “Tarik Armada VII AS”. Saya masih ingat juga, setiap sore ada perkelahian antar-organisasi pemuda.

Ketika saya kuliah di Fakultas Hukum USU, stambuk 1975, persis juga setelah 10 tahun kemudiannya, dosen kami, Darsik Kalahe, begitu antusiasnya menjelaskan apa Pancasila itu. Ya, lima sila kita sebagai fundamen Negara Kebangsaan dan Kesatuan RI. Kelima silanya adalah 1) Ketuhanan Yang Maha Esa 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan 5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sebenarnya sudah sangat jelas dan tegas apa yang dimaksudkan dari lima sila itu. Hal serupa juga ditekankan para Penatar P4 ketika saya ikut Penataran P4 kelas 120 jam. Lantas, apa yang jadi soal? Adakah yang belum final?

Saya kaget juga membaca situs berita Antara, AntaraNews, yang memberitakan ribuan warga masyarakat Jayapura, ibukota Provinsi Papua menggelar demo damai di Kantor Gubernur Provinsi Papua meminta agar semua komponen masyarakat Indonesia tetap mempertahankan Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.

Dari Jayapura, Senin awal Agustus itu, sejak pkl.07.30 WIT warga masyarakat Jayapura dan sekitarnya berbondong-bondong mendatangi Kantor Gubernur Papua. Mereka berjalan kaki secara tertib dan ada pula yang mengendarai sepeda motor, menumpang angkutan umum dan bus carteran. Para pengunjuk rasa membawa spanduk dan pamflet bertuliskan antara lain “Negara Pancasila, Yes”.

Kalau di Papua turun ke jalanan, Gareng Anindityo, seniman dan ketua organisasi Teater Ortoddok Universitas Diponegoro (Umdip) Semarang menegaskan agar generasi muda Indonesia perlu bercermin pada semangat pembentukan sumpah pemuda dan menghidupkan kembali jiwa Pancasila untuk melestarikan dan mempererat persatuan serta kesatuan bangsa.

“Semangat persatuan kini telah terkikis dan Pancasila sudah ditinggalkan oleh banyak orang, terutama kalangan politikus yang berbasiskan agama. Padahal Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia, dengan pedoman Pancasila para pedahulu kita bisa mempersatukan berbagai golongan dan kelompok,” kata Gareng.

Generasi saat ini, baik politisi, pemerintah atau masyarakat umum tidak lagi memikirkan bangsanya dan hanya memikirkan kepuasan pribadi semata. Rasa kebangsaan telah memudar.

Padahal rasa kebangsaan itu lahir dari perasaan senasib yang kemudian diramu para pendiri negara ini dalam bingkai persatuan dan kesatuan.

Rasa senasib berjuang dan melawan penjajah itulah yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda, yang kemudian dinyatakan dalam tekad persatuan dan kesatuan.

“Demikian juga dengan peran Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari. Dulunya Pancasila merupakan jiwa, kepribadian dan pandangan hidup bangsa Indonesia,” ujarnya.

Di samping itu juga telah dibuktikan dengan kenyataan sejarah bahawa Pancasila merupakan sumber kekuatan bagi perjuangan karena menjadikan bangsa Indonesia bersatu.

Dengan adanya persatuan dan kesatuan tersebut jelas mendorong usaha dalam menegakkan dan memperjuangkan kemerdekaan. Ini membuktikan dan meyakinkan tentang Pancasila sebagai suatu yang harus diyakini karena cocok bagi bangsa Indonesia.

Mengenai pengikisan nilai Pancasila di era reformasi, menurut dia, tidak telepas dari pengaruh negatif orde baru (Orba), di mana perilaku rezim saat itu turut mencoreng kemurnian Pancasila sebagai ideologi tunggal.

Dengan demikian, kini ideologi partai-partai di Indonesia bisa berbagai ragam sesuai basis kepentingannya sebagai bentuk kebebasan.

Semangat persatuan dalam arti kebersamaan berdasarkan prinsip keadilan diabaikan, sehingga memunculkan persoalan KKN dan integritas bangsanya terlihat semakin mengendur dan muncul krisis kebangsaan dalam kehidupan bernegara, katanya.

Setyo Widodo SS, pengamat sosial dari Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (FS-Undip) mengatakan, otonomi daerah seolah telah menjelma menjadi pembenaran bagi keputusan daerah yang maunya semaunya sendiri mendongkrak pendapatan hanya bagi daerahnya.

Sejak awal para pemimpin bangsa ini sepenuhnya mengalami dan menyadari bahwa membentuk satu negara Republik Indonesia satu visi yang jauh ke depan melampaui batas-batas keanekaragaman tata-nilai yang dimiliki oleh suku-suku bangsa Indonesia.

“Untuk mewujudkan Pancasila menjadi kenyataan adalah dengan berjuang. Kita masih harus bekerja keras untuk mengamalkannya dalam perilaku,” katanya.

Menurut dia, peristiwa Sumpah Pemuda mewariskan sejarah tentang sikap yang menunjukkan semangat, yaitu cara berpikir, perilaku dan tindakan para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.

“Karakter para pemuda yang mengutamakan wawasan kebangsaan itulah yang menjadikan pemuda kita mau bersatu,” katanya.

Pendapat lebih keras diutarakan Iwan Hartanto, SIP, pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang bahwa ideologi dan cita-cita politik dari setiap partai politik harus berdasar dan sejalan dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa seperti yang tercermin dalam UUD`45 dan Pancasila sebagai sumber segala hukum negara Indonesia.

“Dengan demikian kehadiran partai politik dengan berbagai ideologi dan kebijakan yang diambil melalui wakil rakyat berkuasa jangan sampai menjadi pemicu keretakan integrasi bangsa dan nasionalisme,” kata Iwan.

Sebaliknya, partai sebagai media demokrasi memiliki tugas merawat rasa persatuan dan kesatuan itu. Hal tersebut hanya bisa tercipta dengan memiliki kesadaran nasionalisme yang tinggi.

Kuat dan besarnya bangsa ini terletak pada semangat persatuan dan kesatuannya, seperti yang dikatakan Presiden Soekarno bahwa “semangat kemerdekaan itu adalah semangat persatuan”.

Saat ini rasa pesatuan dan kesatuan bangsa sudah mengalami erosi dari jiwa dan pandangan hidup generasi bangsa Indonesia. Berbagai polemik kebangsaan sebagai warisan orde baru memberi stigma negatif pada rasa nasionalisme.

“Sangat disayangkan jika reformasi yang menyediakan kesempatan demokrasi yang luas justru dimaknai kondisi tersebut sebagai bentuk kegagalan sebuah ideologi,” katanya.

“Sebab, jika kita mengamati, beberapa kelompok secara implisit mencoba menawarkan alternatif untuk `membenahi` ideologi melalui program partai atau rancangan kebijakan-kebijakan dari pemerintah,” katanya.

Padahal yang sangat dibutuhkan saat ini khususnya dalam proses pemilihan pemimpin bangsa adalah pembenahan integrasi nasional. Integrasi sendiri merupakan sebuah proses penyatuan pelbagai nilai-nilai umum bangsa ini.

Ia mengatakan, para insan politik dari berbagai disiplin bidang semestinya bisa menyatukan masyarakat dengan nilai positif yang terdapat dalam bidang yang ditekuni.

Khususnya insan politik yang terjun ke beberapa parpol dan berasal dari militer diharapkan bisa mengimplementasikan semangat korps untuk menjaga keutuhan NKRI. Bukan hanya pada ancaman fisik tapi pada jiwa dan pandangan bangsa Indonesia.

Jika tokoh politik tidak bisa menyatukan bangsa dan hanya mementingkan diri sendiri serta partainya saja niscaya negeri ini tinggal menunggu detik-detik kehancuran apalagi dengan kondisi global saat ini di mana berbagai intervensi negara asing selalu siap menanggapi stiuasi dan kondisi di negeri ini.

“Proses integrasi membutuhkan komitmen bersama, yakni antara pemerintah dan masyarakat,” katanya.

Jason Sihombing, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Semarang Raya, di Semarang mengatakan, geliat gerakan separatis di beberapa daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI terjadi karena merasa diperlakukan tidak adil oleh Pemerintah Pusat.

Kondisi yang demikian tentunya sudah menjadi sinyal pembelajaran bagi pemerintah dan politisi Indonesia untuk melangkah dalam berbagai kebijakan agar selalu mengutamakan kepentingan kesatuan-persatuan kebangsaaan, katanya menjelaskan.

“Jika kita mau belajar dan sejenak merenungkan proses politik negeri ini, kondisi yang kita hadapi sekarang seolah menjadi pengulangan dari suatu periode kelunturan kesatuan dalam jiwa politisi dan wakil rakyat Indonesia,” katanya menegaskan.

Ia menjelaskan, pada periode tahun 1949 hingga 1959, semangat persatuan diwujudkan dengan mengubah kembali bentuk negara serikat menjadi negara kesatuan.

Namun ternyata semangat persatuan luntur oleh kepentingan partai dan elite politik yang diindikasikan oleh konflik elite dan antarpartai politik.

Demikian juga dengan konflik antara elite politik di DPR dengan kabinet karena berkembangnya “mosi tidak percaya”, katanya.

Beruntung saat itu Indonesia memiliki sosok Presiden yang mempunyai komitmen tinggi terhadap integritas. Ketika semangat persatuan mengalami ancaman karena konflik ideologis, Presiden Soekarno membuat dekrit yang membawa negara ini kembali kepada UUD 1945.

Ciri sistem politik saat itu tidak jauh berbeda dengan yang dihadapi sekarang yakni sistem pemilu multipartai, pers yang bebas, konflik elite, berkembangnya separatisme pada beberapa tahun terakhir, pemilu yang bebas bersaing, jujur dan adil, konflik ideologis dan dominasi parlemen, kata Jason.

Dengan kondisi saat ini, Indonesia tidak memiliki Soekarno lagi, sebab dia hanya bagian dari kehidupan manusia yang pasti akan berakhir. Namun bukan berarti ketiadaannya menjadi awal kehancuran persatuan Indonesia.

“Melalui pemilu dan proses pembentukan pemimpin dalam partai kita harus bisa melahirkan `Soekarno-Soekarno Reformasi` dengan semangat persatuan dan semangat kebangsaan yang terbentuk dari rasa kebersamaan, persaudaraan dan tujuan yang nasional yang sama bagi mewujudkan Indonesia bersatu, maju dan sejahtera,” katanya.

Nampaknya, untuk membuat Indonesia kembali bangkit dan menjadi bangsa yang maju maka perlu kembali dan menjadikan Pancasila sebagai branding Indonesia.

“Bagaimana cara kita mencapai tujuan ke depan, bangun kembali Pancasila. Kembalikan dulu semuanya ke Pancasila,” kata Konsultan dari MakkiMakki Branding Consultant, Sakti Makki, dalam diskusi “Re-branding Indonesia”, di Jakarta.

Ada benarnya, karena menurut dia, Indonesia sangat kaya bahkan merupakan negara paling kaya di dunia tetapi sayangnya keadaan masyarakat tetap miskin, tidak terdidik, dan tidak mudah paham. Pendidikan menjadi hal terpenting yang diperhatikan agar masyarakat menjadi masyarakat yang mudah paham akan segala hal.

Dia mengatakan Pancasila merupakan sesuatu yang hebat yang dimiliki Indonesia. Dengan Pancasila, Indonesia telah memiliki keadilan, kerakyatan, kemasyarakatan, tetapi yang menjadi pertanyaan apakah itu semua hidup dalam masyarakat Indonesia.

“Siapa institusi negara kita yang menghidupkan lima hal pada Pancasila?” ujar dia.

Dia mengatakan dua hal yang menjadi titipan bagi rakyat Indonesia yakni pertama adalah bangsa dan negara dan yang kedua adalah Pancasila. Jika kedua hal tersebut tidak dapat kembali maka Indonesia tidak dapat melakukan re-branding.

“Kita kembali dulu pada nalar pertama kita, Pancasila, yang susah payah dibuat oleh Bung Karno. Yang penting adalah kita hidup jangan hanya hormat pada simbol berani dan suci kalau kelakuan kita tidak berani dan suci,” ujar dia.

Dia mengatakan Indonesia memiliki minyak tetapi pengilangan dimiliki asing. Indonesia pandai menghasilkan minyak mentah tetapi tidak dapat memasukan minyak ke tangki bensin, pantas jika negara terus-menerus mensubsidi.

“Sebenarnya saat kita lahir pada 17 Agustus 1945, itulah branding kita. Kita tidak pernah tahu secara pasti branding kita itu, karena penyelenggara negara juga tidak pernah melakukan hal itu,” ujar dia.

Presiden Arrbey Indonesia, Handito Hadi Joewono berpendapat, Indonesia harus melakukan re-branding untuk dapat dipandang sejajar oleh negara-negara lain.

Namun demikian, dia mengatakan, apapun namannya, re-branding harus dilihat dari dua sisi, yakni masyarakat dan pemerintah dalam hal ini Presiden.

“Menurut saya, kemauan untuk membangun tidak hanya dari kita tapi dari Presiden juga. Hari ini paling tidak saya belum lihat sesuatu yang komprehensif dan holistik yang sudah kita diskusikan bahwa Indonesia bisa,” ujar dia.

Dia mengatakan perlu ada sebuah tim kecil untuk dapat merespon semua pihak.

Indonesia telah memiliki nama negara, Garuda Pancasila, dan bendera Merah Putih, tetapi belum mengetahui Indonesia ingin menjadi seperti apa, belum ada kata sepakat.

“Yang terpenting akhirnya kita bisa berbangga menjadi orang Indonesia. Jangan sampai berbicara `re-branding` sebagai simbol-simbol saja,” katanya.

Iya, saya juga sependapat.

Tapi, setidaknya, sekarang ini diperlukan lagi berupa yel-yel –di dalam hati saja dengan mengucapkan saja pun– sudah bagus yakni: Sekali Pancasila Tetap Pancasila. Merdeka. !!!

Terdapat (1) Tanggapan
pahalatua | 04/10/08. 10:24:24
perlu pendidikan sejak dini bagi seluruh anak bangsa arti dan makna pancasila serta menanamkan kemauan utk melaksanakannya tdk cukup hanya melafalkan saja..MERDEKA!!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: