Beranda » Uncategorized » IKLAN POLITIK

IKLAN POLITIK

November 2008
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 7.234 hits
Iklan

Oleh Efendy Naibaho

SUDAH lama sekali yang namanya iklan itu digunakan untuk keperluan berbagai produk, barang dan jasa. Iklan itu dimaksudkan untuk mendorong atau membujuk orang atau khalayak ramai supaya mau membeli atau memakai produk yang ditawarkan. Karena itulah, banyak sekali iklan terpampang di berbagai media, mulai dari media cetak, elektronik, situs berita dan di media strategis lainnya berupa spanduk, baliho dan lain-lain.

Ketika partai politik memanfaatkan iklan –enak disebut dengan iklan politik—dan ada yang mengkritik iklannya, tentu hal ini sebagai hal yang biasa – biasa saja dan tentu tidak perlu kebakaran jenggot. Soal jenggot ini disampaikan anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI Perjuangan AP Batubara yang mengingatkan masyarakat agar bisa memahami dan tidak kebakaran jenggot terhadap iklan politik PDIP yang dimuat di media massa.

“Materi iklan PDIP tentang upaya keterjangkauan harga sembako (sembilan bahan pokok) merupakan potret yang menggambarkan realitas di masyarakat, di mana harga sembako saat ini dirasakan mayoritas rakyat makin tak terjangkau,” katanya di Jakarta.

AP Batubara mengatakan, soal mahalnya harga sembako adalah fakta yang dirasakan masyarakat lapisan bawah, sehingga PDIP menegaskan komitmennya untuk menjadikan sembako sebagai agenda utama yang harus diperjuangkan. “Jadi, apa yang salah dari iklan itu?.

Pengamat politik Kastorius Sinaga memang menilai iklan politik PDI Perjuangan yang menjanjikan sembako murah, kurang elok di tengah krisis ekonomi global yang dihadapi banyak negara termasuk Indonesia.

“Iklan politik sembako kurang elok karena hanya memanfaatkan keperluan politik semata, padahal pada saat ini yang dibutuhkan adalah kerjasama bagaimana mencari solusi dalam mengatasi krisis ekonomi global,” katanya di Jakarta, Selasa.

Selain iklan politik PDIP, iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga disorot. Iklan PKS dinilai tidak memberikan pencerahan kepada masyarakat karena mengangkat sosok mantan Presiden Soeharto sebagai guru bangsa.

“Rekonsiliasi nasional boleh-boleh saja. Tapi tentunya tidak serta-merta menempatkan mantan penguasa Orde Baru itu sebagai guru bangsa,” kata Ketua Bidang Pemuda DPP PDIP Budiman Sudjatmiko dalam acara Dialektika Demokrasi bertema “Iklan Politik Nasional Milik Siapa” di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta.

Budiman mencontohkan, langkah rekonsiliasi yang dilakukan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Menurut mantan aktivis yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakkan semasa pemerintahan Presiden Soeharto itu, saat melakukan rekonsiliasi dengan para tokoh apartheid, Nelson tidak menempatkan mantan Presiden Afrika Selatan sebelumnya, Pieter Willem Botha sebagai guru bangsa.

Direktur Eksekutif Lembaga Riset Indonesia Johan Silalahi juga mengatakan bahwa pihaknya menyayangkan gencarnya sejumlah capres beriklan pada saat ini dengan intensitas yang tinggi.

Menurut dia, saat ini masih terlalu dini untuk memulai sebuah pertarungan dengan memasang iklan di berbagai televisi karena kompetisi yang sesungguhnya baru dimulai setelah pemilu legislatif pada April 2009.

Di saat prokontra soal iklan politik ini berlangsung, yang pasti, belanja iklan politik Pemilu 2009 meningkat pesat dibandingkan pemilu sebelumnya (2004), walaupun belanja iklan yang besar tidak menjamin meningkatkan rating popularitas parpol di mata masyarakat.

Iklan dan dunianya memang akan jalan terus. Tidak akan bisa dikekang. Yang paling hebat nantinya, bila ada parpol atau caleg membuat brosur iklannya dengan menaburkan dari udara. Ini baru ramai. Bukan pohon saja atau tiang listrik yang fullcaleg atau fullcapres.

Namun demikian, saya sependapat dengan Menkominfo Muhammad Nuh, yang mengimbau agar media massa tetap menjaga netralitasnya dan tidak berpihak dalam masa kampanye Pemilu 2009. Hal ini untuk mencegah keberpihakan yang memunculkan kecemburuan antarpartai atau masyarakat.

Di masa kampanye seperti ini, media jangan lupa diri sehingga hanya memihak ke salah satu atau beberapa partai saja termasuk dalam pemberitaannya. Yang diperlukan adalah netralitas media. ***

Iklan

1 Komentar

  1. Tuman berkata:

    Waduh.. tulisan ini nggak ada ide sama sekali…Kasihan benerrrr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: