Beranda » Uncategorized » LEMBAGA KESENIAN SUMATERA UTARA

LEMBAGA KESENIAN SUMATERA UTARA

Maret 2009
M S S R K J S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 7.292 hits

Tulisan Teratas

Iklan

Oleh Efendy Naibaho

DI Medan, ada wadah yang menangani kesenian, namanya Dewan Kesenian Sumatera Utara. Perjalanan panjang dewan ini disebut-sebut kurang maksimal, malah diminta untuk dibekukan saja.

Terlepas dari masalah maksimal dan kurang maksimal, dibekukan atau mau diapakan, masalah kesenian di Sumatera Utara memang seperti benang kusut dan tidak terawat dengan rapi. Komunitas senimannya terlihat berjalan apa adanya dan dengan masalahnya sendiri. Ya seni rupa, tari, musik, teater dan lainnya.

Apa yang salah terhadap kesenian kita? Sebenarnya tidak ada yang salah. Yang salah adalah lembaga yang mengelolanya dan perhatian pemerintah dan swasta yang minim sekali. Dari APBD Provinsi tentu menjadikan masalah kesenian menjadi anak tiri. Juga dari APBD Kabupaten/Kota.

Kalau bupatinya tak sreg dengan budaya, dan terkesan cuek saja, alokasi dananya tentu menjadi minim. Ini keluhan seniman lukis Syahrudin Harahap yang mempunyai sebuah galeri di Tuktuk, Samosir.

Dalam dialog budaya yang dilaksanakan Forum Peduli Seni Sumatera Utara, dikomandoi Idris Pasaribu dan Afrion, Rabu (18/3-09) di Sanggar Teater Taman Budaya Medan, saya, yang ditampilkan sebagai pembicara utama, meminta agar para seniman di Sumatera Utara membentuk sebuah wadah baru: Lembaga Kesenian Sumatera Utara.

Setelah lembaga ini terbentuk, dengan satu catatan penting, harus ada staf eksekutifnya untuk memenej-nya, dilanjutkan dengan pembentukan perusahaan terbatas (PT) yang rohnya seperti koperasi. Semua seniman menjadi pesaham di PT ini, katakanlah misalnya nama perusahaannya, PT Lintas Budaya Sumatera Utara.

Dengan PT yang rohnya berbau koperasi ini, tiap seniman bisa –misalnya– mendapatkan kredit untuk usaha galeri dan usaha lainnya. Sebab, perbankan atau instansi pemerintah atau swasta lebih suka berhubungan dengan badan hukum.

Sudah waktunya memang, para seniman mempunyai manajer dan menjadikan seni bukan sebagai hobbi saja tetapi menjadi sebuah mata pencaharian yang tetap.

Yang menjadi soal sekarang, apakah seniman sudah mau ”bekerja di bawah tekanan”? Karena seperti diungkapkan Ayat, seniman muda itu, seniman tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Ini menjadi soal utama lagi dan apakah mau melakukan perubahan dari diri mereka sendiri dan tidak menggantungkan dirinya kepada pemerintah. Yang mendirikan dewan-dewan itu kan produk orde baru, keluh Bokor Hutasuhut, seniman yang sudah malang melintang di dunia budayanya.

Banyak usul saran lainnya yang mengemuka seperti Afrion yang banyak sekali mengupas soal Dewan Kesenian Sumatera Utara maupun Hafids, seniman yang semakin jangkung saja.

Khusus di Medan, memang sudah waktunya para seniman mempunyai gedung kesenian yang representatif, di atas lahan yang luas, di lahan PTP yang banyak akan dibebaskan dari HGU-nya. Tapian Daya sendiri, di Jalan Binjai, Medan, sudah berubah fungsi menjadi areal Pekan Raya Sumut yang duiunya sempat kami protes tapi tak dihiraukan gubernurnya.

Begitu juga dengan mimpi, bekas gedung Balai Kota di depan Lapangan Merdeka Medan, yang tidak pernah terwujud menjadi semacam balai untuk konser musik atau pertunjukan yang mahal. Mengapa? Balai Kota-nya sekarang sudah terjepit bangunan jangkung di belakangnya.

Soal Gedung Kesenian, dulunya ketika saya masih SD, saya pernah hadir di gedung itu, untuk acara natalan dari sekolah, di Jalan Bali Medan. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya Gedung Kesenian itu.

Ini barangkali yang membuat Medan, ibukota Provinsi Sumut itu tidak berseni. Iklan atau baliho noncaleg saja pun berhimpitan. Contohnya di depan Bank Sumut, ada space iklan yang tertimpa space lainnya. Lucunya, tidak ada penindakan dan tindak lanjut. Apakah karena itu namanya menjadi “Ini Medan Bung?”. Saya kira tidak dan saya tidak setuju.

Yang kita inginkan, kembalikan budaya Medan, budaya Sumatera Utara yang berseni. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: