Beranda » Uncategorized » DICARI, ORANG BALI YANG MAU NGURUSI PARIWISATA DANAU TOBA

DICARI, ORANG BALI YANG MAU NGURUSI PARIWISATA DANAU TOBA

Oleh Efendy Naibaho

SUDAH dua kali secara resmi saya mengusulkan di pertemuan formal Komisi E DPRD Sumatera Utara dengan Pemerintah Provinsi Bali agar staf di dinas pariwisata Bali mau menjadi kepala dinas pariwisata Sumatera Utara. Untuk apa? Ya, untuk mengelola dan memenej agar pariwisata Sumatera Utara khususnya pariwisata di Danau Toba bisa meniru pariwisata di Bali.

Kalaupun tidak menjadi kadis, setidaknya menjadi staf ahli gubernur di bidang pariwisata. Terhadap rencana ini, Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin sudah saya beritahu melalui pesan singkat /sms/ tapi belum ada respon.

Mengapa orang Bali? Usul saya ini karena orang Bali sudah terbukti dan teruji bisa mengurusi pariwisata di Bali. Saya sadar, antara Bali dan Danau Toba jauh sekali berbeda. Hanya saja, apa yang “dijual” di Bali, ada juga di Danau Toba.

Kalau Bali ada pantainya, Danau Toba juga punya. Bali punya laut, Danau Toba punya ”laut” tapi namanya danau. Bali punya kesenian, di Danau Toba juga banyak. Bali punya budaya, di kawasan Danau Toba juga ada: Batak Toba, Simalungun, Karo, Pakpak dll.

Itu persamaannya. Kalau perbedaannya, cukup mencolok. Pantai Danau Toba dijadikan bangunan berhimpit, malah menimbun danau. Hanya satu pantai yang tergolong lumayan, yakni di Sosor Pasir, Parapat, yang dijadikan pantai yang cocok untuk bola voli pantai walau ketika itu, bupatinya, JP Silitonga, dicecar habis-habisan.

Yang lainnya, sarana prasarana, keramahtamahan, kreasi, masih belum untuk tidak dikatakan jauh panggang dari api. Begitu juga soal anggaran. Yang terakhir ini malah membuat saya geleng-geleng kepala ketika menyaksikan kantor Bawisda (Badan Pariwisata Daerah) Sumatera Utara yang dikomandani Henry Hutabarat.

Kantornya sudah tutup dan digembok ketika saya temui di lantai III yang tersuruk di kantor Dinas Perhubungan Sumatera Utara dekat Bandara Polonia Medan. Padahal, dulunya, Bawisda ini berkantor di Jalan Diponegoro, satu atap dengan kantor Syamsul Arifin.

Kabarnya, Bawisda ini tutup karena anggarannya tidak ada lagi.

Lantas, mengapa orang Bali? Walau saya sadar betul jika sarana prasarananya tidak mencukupi, apa yang bisa dilakukan? Setidaknya wacana saja juga sudah cukup dan karena orang Bali sudah terbiasa dengan pariwisata, rasanya tidak salah pilih. Bisa saja dengan biaya murah, kunjungan pariwisata ke Sumatera Utara semakin maju.

Misalnya, para ibu-ibu PKK atau ibu-ibu IKA DPRD, diajak menyambut turis mancanegara di Bandara Polonia Medan atau di Belawan menyambut turis dari Penang. Para turis disambut dengan memberikan setangkai bunga. Bunganya dibawa dari rumah masing-masing.

Di Polonia itu juga disiapkan leaflead murahan, kalau perlu difotokopi saja, untuk memberikan petunjuk apa saja kepada turis. Jangan seperti sekarang, pengelola bandara itu lebih memikirkan dagangan saja. Di mana-mana jualan saja, termasuk di areal mau masuk ke ruang tunggu, sudah ada tempat jualan. Kursi untuk ibu-ibu lansia, disediakan 4 buah saja. Tidak manusiawi.

Sebenarnya saya sudah “malas” cerita soal pariwisata ini. Tapi ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa rajin pangkal pandai malas pangkal bodoh. Lalu, mengapa kita bermalas-malasan? Contoh saja gaya Edi Sofyan dari Infokom dengan membuat cetakan atau baliho di sana-sini.

Ada beberapa tips pengembangan suatu daerah menjadi destinasi pariwisata yang saya dapatkan dari brosus Dinas Pariwisata Bali. Tipsnya ada delapan, yakni pertama, harus ada sesuatu yang menarik , bisa berupa kegiatan budaya, keagamaan, bentang alam, alam bawah laut, dan sebagainya. Pokoknya, uniklah.

Kedua, infrastruktur yang memadai. Ketiga, sarana pariwisata yang cukup. Keempat, aksesibilitas yang mudah. Kelima, kesiapan masyarakat menjadi tuan rumah yang baik, keenam, dukungan pemerintah dan stekholder yang lainnya. Ketujuh, pengembangan dan diversifikasi dan kedelapan, promosi yang efektif.

Saya menambahkan satu lagi, ada jadwal tetap tiap even yang akan ditampilkan sehingga siapapun bisa mengatur waktunya.

Memang sebuah pertanyaan mendasar selalu mengganjal selama ini, mengapa Bali menarik? Sebaliknya, mengapa Danau Toba tidak menarik?

Bali menarik karena Bali memang unik, dari segi sosial dan budayanya yang ditunjang dengan keramahan masyarakat dan keamanan yang sangat baik. Ada sebuah hasil survei yang menyebutkan bahwa 67 persen wisatawan yang berkunjung ke Bali menyatakan Bali menarik karena faktor budayanya.

Maukah orang Bali itu menjadi kadis pariwisata Sumatera Utara? Pada dasarnya mereka oke saja, dan meminta ada MOU antara Pemerintah Sumatera Utara dan Bali. Kapan itu ya, sejalan dengan pertanyaan, ”kapan pariwisata Danau Toba menjadi berkualitas”? Dan, ”kapan Danau Toba tidak menjadi ’danau pelet’ karena dijadikan tempat memelihara ikan?”. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: